A. MASALAH YANG MENYERTAI PEMBANGUNAN EKONOMI
Tujuan pembangunan bukan hanya menginginkan adanya
perubahan dalam arti peningkatan PDB tapi juga adanya perubahan struktura.
Perubahann struktur ekonomi berkisar pada segi akumulasi (pengembangan sdp
secara kuantitatif dan kualitatif), segi alokasi (pola penggunaan sdp), segi
institusional (kelembagaan ekonomi dalam kehidupan masyarakat), segi distribusi
(pola pembagian pendapatan nasional) (Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
B. KARAKTERISTIK PEREKONOMIAN INDONESIA
- Indonesia sebagai negara keupulauan (nusantara) memiliki ciri-ciri khusus, yang berbeda dengan negara tetangga ASEAN, bahkan berbeda dengan negara-negara laindi dunia sehingga perekonomiannya memiliki karakteristik sendiri.
-
Yang mempengaruhi karakteristik perekonomian Indonesia
:
3.
Faktor geografi
·
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di
dunia, terdiri dari 13.677 pulau besar – kecil (baru 6.044 pulau memiliki nama,
diantaranya 990 pulau yang dihuni manusia); terbentang dari 60LU
sampai 110LS sepanjang 61.146 km., memiliki potensi ekonomi yang
berbeda-beda karena perbedaan SDA, SDm, kesuburan tanah, curah hujan (Sutjipto,
1975).
·
Wilayah Indonesia seluas 5.193.250 km2,
70 persennya (± 3,635,000 km2) terdiri dari lautan (menjadi negara
bahari) letaknya strategis karena : memiliki posisi silang (antara Benua Asia
dan Benua Australia), menjadi jalur lalulintas dunia (antara Laut Atlantik dan
Laut Pasifik) dan menjadi paru-paru dunia (memiliki hutan tropis terbesar).
·
Menghadapi kesulitan komunikasi dann
transportasi antar pulau (daerah) baik untuk angkutan barang maupun penumpang;
arus barang tidak lancar; perbedaan harga barang yang tajam; perbedaan
kesempatan pendidikan dan kesempatan (lapangan) kerja; kesemuanya itu merupakan
potensi kesenjangan.
4.
Faktor Demografi
·
Indonesia negara nomor 4 di dunia karena
berpenduduk lebih dari 310 juta orang. Penyebaran penduduk tidak merata (dua
per tiga tinggal di P. Jawa), sebagian besar hidup di pedesaan (pertanian),
bermata pencairan sebagai petani kecil dan burah tani dengan upah sangat
rendah.
·
Mutu SDM rendah : ± 80% angkatan kerja
berpendidikan SD. Produktivitas rendah karena taraf hidup yang rendah: konsumsi
rata-rata penduduk Indonesia RP 82.226 per bulan (1993), namun 82% penduduk
berpendapatan di bawah RP 60.000 per bulan per kapita (Sjahrir, 1996).
·
Indonesia yang berpenduduk lebih dari 210 juta
orang membutuhkan berbagai barang, jasa dan fasilitas hidup dalam ukuran serba
besar (pangan, sandang, perumahan dan lain-lain). Namun dilain pihak kemampuan
kita untuk berproduksi (produktivitasnya) rendah. Hal ini akan menciptakan
kondisi munculnya rawan kemiskinan.
5.
Faktor sosial, budaya
dan politik
·
Sosial : Bangsa Indonesia terdiri dari banyak
suku (heterogin) dengan beraagam budaya, adat istiadat, tata nilai, agama dan
kepercayaan yang berbeda-beda. Karena perbedaan latar belakang, pengetahuan dan
kemampuan yang tidak sama, maka visi, persepsi, interpretasi dan reaksi (aksi)
mereka terhadap isu-isu yang sama bisa berbeda-beda, yang sering kali
menimbulkan konflik sosial (SARA).
·
Budaya : Bangsa Indonesia memiliki banyak budaya
daerah, tapi sebenarnya kita belum memiliki budaya nasional (kecuali bahasa
Indonesia). Namun sebagai salah satu bangsa “Timur” (bangsa yang merdeka dan
membangun ekonomi sejak akhir Perang Dunia II), mayoritas bangsa Indonesia
sampai sekarang masih terpengaruh (menganut) “budaya” Timur, budaya status
orientation. Budaya status orientation bercirikan: semangat hidupunya mengejar
pangkat, kedudukan, status (dengan simbol-simbol sosial); etos kerjanya lemah;
senang bersantai-santai; tingkat disiplinnya rendah, kurang menghargai waktu
(jam karet). Lawannya “budaya” barat, budaya achievement orientation dengan
ciri-ciri sebaliknya.
·
Budaya status orientationn tidak produktif,
konsumtif, suka pamer dan mudah memicu kecemburuan sosial.
·
Politik : sebelum kolonialis Belanda datang,
bangsa Indonesia hidup di bawah kekuasaan raja-raja. Ratusan tahun bangsa
Indonesia hidup di bawah pengaruh feodalisme dan kolonialisme. Ciri utama
feodalisme antara lain adalah kultus individu (raja selalu diagungkan). Ciri
utama kolonialisme antara lain adalah otoriter (laksana tuan terhadap budak).
·
Sisa-sisa pengaruh feodalisme (kultus individu)
dan pengaruh kolonialisme (otiriter) sampai sekarang belum terkikis habis. Hal
ini sangat terasa pada percaturan dan pergolakan politik di Indonesia. Perilaku
yang kurang demokratis dari para elit politik dan perilaku kurang menghargai
HAM dari para penguasa, menghambat kelancaran proses demokratisasi politik di
Indonesia. Pada gilirannya hal ini menghambat terciptanya demokrasi ekonomi.
·
Dari uraian pengaruh faktor-faktor di atas dapat
disimulkan bahwa perekonomian Indonesia mengandung tiga potensi kerawanan.
·
Tiga potensi kerawanan yang menjadi
karakteristik perekonomian Indonesia adalah:
1)
Potensi rawann kesenjangan, terutama kesenjangan antara
daerah (pulau). Hal ini terutama sebagai akibat pengaruh faktor geografi.
2)
Potensi rawan kemiskinan, terutama kemiskinan di darah
pedesaan. Hal ini terutama sebagai akibat pengaruh faktor demografi dan faktor
budaya.
3)
Potensi rawan perpecahan, terutama perpecahan antar
suku, antar golongan (elit) politik. Hal ini terutama sebagai akibat pengaruh
faktor sosial-politik..
C. PILIHAN STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI
- Strategi pembangunan dengan pertumbuhan terbukti gagal menyelesaikan persoalan-persoalan dasar pembangunan. Dalam kiprahnya strategi itu justru menciptakan persoalan-persoalan seperti kemiskinan, keterbelakangan dan kesenjangan antar pelaku ekonomi (Budi Santoso, 1997).
-
Konsep pertumbuhan ekonomi menurut Boediono adalah
proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Sedangkan teori
pertumbuhan ekonomi bisa kita definisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor
apa yang menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan
penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama
lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan (Boediono, 1982).
-
Joseph Schumpeter membedakan dua latihan yaitu
pertumbuhan ekonomi (growth) dan perkembangan ekonoim (development).
Kedua-duanya adalah sumber dari peningkatan output masyarakat, tetapi
masing-masing mempunyai sifat yang berbeda (Boedino, 1982).
3.
Strategi Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth)
·
Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan ouptut
masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktor produksi yang
digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa adanya perubahan cara-cara
atau “teknologi” produksi itu sendiri.
·
Indonesia menganut strategi pertumbuhan ekonomi
dan dalam melaksanakan pembangunan memakai Model Harrod Domar. Menurut kedua
ekonomi ini, setiap penambahan stock kapital masyarakat (K) meningkatkan pula
kemampuan masyarakat untuk menghasilkan output (Qp). di sini Qp
menunjukkan output yang potensial bisa dihasilkan dengan stock kapital
(kapasitas produksi) yang ada.
·
Hubungan K dan Qp : Qp =
hK atau 1/h = K/Qp
1/h = Capital
output ratio (COR)
koefisien ini
menunjukkan untuk menghasilkan setiap unit output diperlukan berapa unit
kapital.
Karena
hubungan antara K dan Qp
adalah proposional, maka :
DQp
: Qp = hDK
atau 1/h = DK/DQp
1/h = Incremeental capital output ratio (ICOR)
koefisien ini
menunjukkann untuk menghasilkan tambahan setiap unit output diperlukan berapa
unit tambahan kapital (investasi)
·
Konsekuensi strategi pertumbuhan adalah bahwa
besar kecilnya laju pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada naik turunnya
tingkat investasi. Contoh : petro dollar (kelebihan harga minyak) pertumbuhan
ekonomi melonjak drastis dari 2,5% (sebelum dimulai Pelita) menjadi 7,0%
(selama Pelita I, II dan Pertengahan Pelita III). Tapi mulai pasca Oil Boom
maka pertumbuhan ekonom merosot sampai 2,5% (bersamaan resesi dunia tahun 1982)
dan baru pulih kembali pada awal Pelita V mencapai 7,1% (1990).
·
Sejak krisis moneter pertengahan tahun 1997
dimana terjadi capital flight besar-besaran, pertumbuhan ekonomi merosot dengan
cepat, masingmasing 8,5%, 6,8%, 2,5% dan 1,4% (untuk triwulan I, II, III, dan
IV tahun 1997). Tahun 1998 pertumbuhan menjadi negatif.
4.
Strategi Perkembangan Ekonomi (Economic Development)
-
Perkembangan ekonomi adalah kenaikan output yang
disebabkan oleh inovasi yang dilakukan oleh entreprener (wiraswastaan). Inovasi
menyangkut perbaikan kualitatif dari sistem ekonomi itu sendiri, yang bersumber
dari kreativitas para wiraswastawan.
-
Syarat-syarat terjadinya inovasi (perkembangan ekonomi)
(1)
Harus tersedia cukup calon-calon pelaku inovasi
(entreprenur) di masyarakat
(2)
Harus ada lingkungan sosial, politik dan teknologi yang
bisa menjadi tempat subur bagi semangat inovasi
(3)
Harus ada cadangan atau supplai ide-ide baru secara
cukup.
(4)
Harus ada sistem prekreditan yang bisa menyediakann
dana bagi para entrepreuner.
-
Ada lima kegiatan yang termasuk inovasi, yaitu :
(1)
Diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya tidak ada.
(2)
Diperkenalkannya cara produksi baru, mesin baru
(3)
Penemuan sumber-sumber bahan mentah baru.
(4)
Pembukaan daerah-daerah pasar baru
(5)
Perubahan organisasi industri sehingga meningkatkan
efisiensi.
-
Disini ada perubahan sistem ekonomi sehingga dari waktu
ke waktu kegiatan-kegiatan ekonomi berjalan maini efisien, yang mendukung
peningkatan pertumbuhan ekonomi. Sehingga pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata
tergantung pada tingkat investasi.
3.
Strategi Pembangunan Berwawasan Nusantara
-
Wawasan adalah pandangan hidup suatu bangsa yang
dibentuk oleh kondisi lingkungannya. Kondisi lingkungan hidup bangsa Indonesia
adalah pulau atau kepulauan yang terletak di antara samudera pasifik dan
atlantik, di antara benua Asutralia dan Asia (Nusantara).
-
Pembangunan berwawasan nusantara sebenarnya tidak lain
adalah pembangunan yang berwawasan ruang. Pembangunan berwawasan ruang (ekonomi
regonal) tersirat dalam argumentasi Myrdall dan Hirschman, yang mengemukakan
sebab-sebab daerah miskin kurang mampu berkembang secepat seperti yang terjadi
di daerah yang lebih kaya (Suroso, 1994).
-
Dilihat dari dimensi ekonomi-regional, Indonesia
menghadapi dilema dualisme teknologis, yakni perbedaan dan ketimpangann
mengenai pola dan laju pertumbuhan di antara berbagai kawasan dalam batas wilayah satu negara.
Dilema teknologis menonjol karena adanya
asimetri (ketidakserasian) antara lokasi penduduk dan lokasi sumber alam
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
-
Menurut Laoede M. Kamaludin, penataan ruang di masa
datang sebaiknya tidak hanya mengacu pada daratan, namun juga harus
berorientasi pada penataan ruang kemaritiman. Sedikitnya terdapat tiga
pendekatan yang dapat dikembangkan :
§
Pembangunan ekonomi berbasis teknologi tinggi,
pusat pendidikan, jasa dan pariwisata. Ini tepat diterapkan di P. Jawa, Bali
dan Batam.
§
Pembangunan ekonomi yang berbasis potensi
kelautan. Ini lebih tepat dikembangkan di kawasan timur Indonesia dan kepulauan
kecil di Sumatera.
§
Pembangunan ekonomi berbasis sumber daya mineral
dan tanaman industri dapat dikembangkan di pulau Sumatera (Kompas, 25-5-1999)
-
Mengapa pembangunan berwawasan nusantara penting.
Seiring dengan makin berkembangnya dan makin membesarnya jumlah penduduk maka
kita perlu memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk menggali persediaan bahan
mentah dan sumber-sumber energi yang masih tersimpan banyak dalam flora dan
fauna di lautan. Dalam waktu mendatang laut akan merupakan ladang utama dalam
manusia mencari bahan makanan dan keperluan hidup (Sutjipto, 1995).
Dua pertiga
wilayah Indonesia berupa lautan. Sumber daya hayati Indonesia memiliki potensi
lestari 4 juta ton dalam airlaut, 1,5 ton dalam air budidaya, 0,8 juta ton
dalam air tawar (Kartili, J, A., 1983).
D. PERAN DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH
1. Peran Pemerintah
-
Peran atau campur tangan pemerintah dalam perekonomian
ada yang bersifat kuat (negara sosialis), ada yang lemah (negara kapitalis).
Indonesia menganut sistem ekonomi campuran dengann mengutamakan berlangsungnya
mekanisme pasar sepanjang tidak merugikan kepentingan rakyat banyak.
-
Campur tangan pemerintah dapat dibenarkan secara
konstitusional :
(1)
Dari isi pembukaan UUD 1945 dengan Pancsilanya, dapat
disimpulkan bahwa pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah haruslah
diarahkan untuk :
(a)
Memajukan kesejahteraan umum
(b)
Memajukan kecerdasan kehidupan bangsa
(c)
Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
(2)
Pasal 33 UUD 1945 bersama dengan pasal 34 dan pasal 27
ayat 2 mengandung amanat kepada pemerintah untuk menyelenggarakan kesejahteraan
sosial seluruh rakyat melalui :
(a)
Penguasaan cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan menguasai hajat hidup orang banyak.
(b)
Penguasaan bumi, air dan kekayaan alam yang ada di
dalamnya.
(c)
Pemeliharaan fakir miskin dan anak-anak terlantar
(d)
Penyediaan lapangan kerja
2.
Kebijaksanaan Pemerintah
-
Tujuan utama atau akhir kebijakan ekonomi adalah untuk
meningkatkan taraf hidup atau tingkat kesejahteraan masyarakat. Diukur secara
ekonomi, kesejahteraan masyarakat tercapai bila tingkat pendapatan riil
rata-rata per kapita tinggi dengan distribusi pendapatan yang retif merata.
Tujuan ini tidak bisa tercapai hanya dengan kebijakan ekonomi saja. Diperlukan
juga kebijakan non kebijakan ekonomi saja. Diperlukan juga kebijakan non
ekonomi, seperti kebijakan sosial yang menyangkut masalah pendidikan dan
kesehatan. Kebijakan ekonomi dan
kebijakan non ekonom harus saling mendukung.
Lihat gambar (tulus Tambunan, 1996
Klasifikasi kebijakan ekonomi menurut
tingkat agregasi atau ruang lingkup pengaruh/ ssaran
KEBIJAKAN MAKRO
![]() |
| Add caption |
-
Selain itu kebijakan ekonomi mempunyai intermediate
target sebelum mencapai tujuan akhir. Sasaran perantara tersebut mencakup lima
hal utama :
(1)
Pertumbuhan ekonomi (misalnya PDB atau pendapatan
nasional)
(2)
Distribusi pendapatan yang merata
(3)
Kesempatan kerja sepenuhnya
(4)
Stablitas harga dan nilai tukar
(5)
Keseimbangan neraca pembayaran
Lima sasaran
ini erat kaitannya dengan masalah stabilitas ekonomi.
-
Tiga macam kebijakan Ekonomi (menurut agregasinya) :
(1)
Kebijakan ekonomi mikro
-
Kebijakan pemerintah yang ditujukan pada semua
perusahaan tanpa melihat jenis kegiatan yang dilakukan oleh atau disektor mana
dan diwilayah mana perusahaan yang bersangkutan beroperasi.
-
Contohnya :
(a)
Peraturan pemerintah yang mempengaruhi pola hubungan
kerja (manajer dengan para pekerja), kondisi kerja dalam perusahaan.
(b)
Kebijakan kemitraan antara perusahaan besar dan
perusahaan kecil di semua sektor ekonoim
(c)
Kebijakan kredit bagi perusahaan kecil di semua sektor
dan lain-lain.
(2)
Kebijakan Ekonomi Meso
-
Kebijakan ekonomi sektoral atau kebijakan ekonomi
regional. Kebijakan sektoral adalah kebijakan ekonomi yang khusus ditujukan
pada sektor-sektor tertentu.s etiap departemen mengeluarkan kebijakan sendiri
untuk sektornya, seperti keuangan, distribusi, produksi, tata niaga, ketenaga
kerjaan dan sebagainya.
-
Kebijakan meso dalam arti regional adalah kebijakan
ekonomi yang ditujukan pada wilayah tertentu. Misalnya kebijakan pembangunan
ekonomi di kawasan timur Indonesia (KTI), yang mencakup kebijakan industri
regonal, kebijakan investasi regional dan sebagainya. Kebijakan ini bisa
dikeluarkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
(3)
Kebijakan Ekonomi Makro
-
Kebijakan ini mencakup semua aspek ekonomi pada tingkat
nasional, misalnya kebijakan uang ketat (kebijakan moneter). Kebijakan makro
ini bisa mempengaruhi kebijakan meso (sektoral atua regional), kebijakan mikro
menjadi lebih atau kurang efektif.
-
Instrumen yang digunakan untuk kebijakan ekonomi makro
adalah tarif pajak, jumlah pengeluaran pemerintah melalui APBN, ketetapan
pemerintah dan intervensi langsung di pasar valuta untuk mempengaruhi nilai
tukar mata uang rupiah terhadap valas. (Tulus Tambunan, 1996).
-
Kebijakan ekonomi juga bisa dibedakan antara kebijakan
ekonomi dalam negeri dan kebijakan ekonomi luar negeri.
a.
Kebijakan Ekonomi dalam Negeri
(1)
Kebijakan sektor ekonomi, seperti pertanian, industri
dan jasa-jasa
(2)
Kebijakan keuangan negara, seperti perpajakann, bea
cukai, anggaran pemerintah (APBN).
(3)
Kebijakan moneter perbankan, seperti jumlah uang
beredar, suku bunga, inflasi, perkreditan, pembinaan dan pengawasan bank.
(4)
Kebijakan ketenagakerjaan, seperti penetapan upah
minimum, hubungan kerja, jaminan sosial
(5)
Kebijakan kelembagaan ekonomi, seperti BUMN, koperasi,
perusahaan swasta, pemberdayaan golongan ekonomi lemah (UKM), dan lain-lain
kebijakan.
b.
Kebijakan hubungan ekonomi luar negeri
(1)
Kebijakan neraca pembayaran, seperti pengamanan
cadangan devisa negara.
(2)
Kebijakan perdagangan LN, seperti tata-niaga (ekspor
dan impor), perjanjian dagang antar negara.
(3)
Kebijakan penanaman modal asing, seperti perizinan
investasi langsung, investasi tidak langsung, usaha-usaha patungan.
(4)
Kebijakan hutang LN, menyangkut hutang pemerintah,
hutang swasta, perundingan/ perjanjian dengan para kreditor, dan lain-lain
kebijakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar